Petualangan Mahasiswa Malang yang Menjalankan Ramadhan di Portugal: Rindu akan Warung Takjil

MALANG, - Melakukan ibadah puasa di luar negeri merupakan pengalaman perdana untuk Farhan Rahmatullah (20).

Mahasiswa dari departemen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tengah melaksanakan masa studinya selama satu semester di University of Minho, Portugal.

Ia menerima beasiswa Erasmus+ Scholarship dan baru tiba di Portugal bulan Februari yang lalu.

Farhan kini menetap di Kota Guimaraes dan berencana untuk menyelesaikan studinya di sana sampai akhir Juni 2025.

Hambatan yang ia hadapi saat melaksanakan ibadah puasa di tempat asing adalah variasi jam buka dan tutup fast yang tak teratur.

Pada saat ini, Farhan melakukan puasa dari pukul 05.30 pagi sampai 18.15 sore di Portugal.

Namun, dengan perubahan musim yang mengarah ke cuaca lebih hangat di Portugal, perkiraan menyatakan bahwa durasi puasa dapat bertambah hingga mencapai 15 jam.

Kemungkinan besar disebabkan oleh letak geografis negaranya yang tidak tepat berada pada garis khatulistiwa, melainkan sedikit ke utara dan cenderung lebih ke arah barat. gitu Ya, bumi memutar dengan sumbunya yang tidak sepenuhnya tegak lurus, sehingga saat kita mendekati musim panas, masa siang di tempat ini menjadi lebih lama," ujar Farhan pada hari Minggu, 16 Maret 2025.

Kangen war takjil

Selain itu, Farhan pertama kali berpuasa di negara dengan minoritas penduduk Muslim.

Dia kadang rindu dengan atmosfer Ramadan di tanah airnya, misalnya mencari-cari makanan pembuka untuk buka puasa.

"Yang dikangenin Terutama tentang pengecualian takjil yang jelas, suasana Ramadan di sini berbeda. Di Indonesia, setiap kali waktu sahur tiba, selalu ada pemberitahuan sebelum adzan Subuh dan ketika menjelang waktu Maghrib biasanya ada kajian di masjid," katanya.

Salat Jumat serta Tarawih kerap kali dilakukan secara individu tanpa ikut jemaah.

Farhan menyatakan bahwa dia tengah mengalami kesulitan dalam menemukan tempat untuk sholat ketika dirinya sedang berada di luar apartemen.

Ketika berada di kampus, dia biasanya mencari ruangan kosong seperti di kelas atau tempat diskusi mahasiswa.

"Mosque terdekat tersebut berjarak sekitar 45 menit, dan saat Jum'at jika tidak ada perkuliahan Alhamdulillah saya bebas, sehingga saya mengatur jadwal agar dapat meluangkan waktu pada hari Jumat untuk shalat Jum'at," ungkapnya.

Bagi buka puasa dan sahurnya, laki-laki kelahiran Kediri, Jawa Timur ini kebiasaannya adalah memasak makanan sendirian.

Karena, untuk mendapatkan makanan halal di restoran halal dari apartemen memerlukan waktu kira-kira 30 menit.

Farhan kebanyakan menghidangkan masakan khas Nusantara. Hidangan pokoknya adalah nasi putih dengan lauk pendamping seperti ayam goreng serta sayuran kuah.

Hambatan dalam menyiapkan hidangan tradisional Indonesia

Memasak makanan khas Indonesia di negeri orang juga menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya. Seperti sulitnya mencari rempah-rempah khas Indonesia.

Karena itu disebutkan, hidangan tradisional Portugal kurang menggunakan bumbu atau rempah-rempah. Sementara untuk mendapatkan daging halal, pembeli hanya dapat menemukannya di supermarket.

Sebagian besar produk yang dijual adalah bumbu-bumbu kering seperti rempah-r Empah, yaitu bahan-bahan yang telah diproses. frozen gitu ," katanya.

Namun demikian, Farhan kadang-kadang juga menyantap hidangan halal yang ia temukan, yaitu masakan khas Bangladesh dan Pakistan.

"Kalau makanan asli Portugal sendiri itu yang berani saya makan karena saya sendiri muslim itu jenis-jenis seperti roti-roti-an, pastry gitu," katanya.

Dia pun telah berpartisipasi dalam beberapa kesempatan sahur dan buka puasa bersama dengan komunitas orang Indonesia yang ada di Portugal.

"Kemarin ada acara buka puasa bersama dengan teman-teman dari PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) yang berada di Portugal, namun kegiatan tersebut dilaksanakan di Porto. Perjalanannya memerlukan waktu satu jam menggunakan bis sebab Kota Porto merupakan kota besar dan memiliki komunitas Muslim yang lebih banyak dibandingkan dengan Guimarães," jelasnya.

Soal toleransi dalam beragama, awalnya Farhan khawatir terjadi diskriminasi terhadap dirinya. Namun, sejauh ini, perlakuan yang diterimanya di kalangan tempat studi dan lingkungan apartemennya tidak ada masalah.

"Hingga saat ini, mereka cukup tenang dengan situasi tersebut dan menerimanya. Mungkin hanya segelintir orang saja yang terkejut, misalnya di apartemen waktu saya bangun tidur pukul 4 subuh untuk memasak sahur, sebagian dari mereka merasa heran namun tidak sampai menimbulkan gangguan. Kebanyakan hanya bertanya-tanya saja," jelasnya.

Lebih baru Lebih lama