
Gagasan utama yang terpikirkan oleh saya sesudah pertandingan antara Tim Nasional Indonesia kontra Bahrain pada hari Selasa tanggal 25 Maret kemarin merupakan judul di atas. Di dalam permainan tersebut, tendangan tunggal dari Ole Rommy telah menjamin kemenangan bagi Indonesia dengan skor tipis 1-0, sekaligus menyimpan harapan untuk dapat lolos ke Piala Dunia tahun 2026.
Jika kita melihat ke arah strategi tim secara keseluruhan, istilah "pragmatis" sebenarnya bisa menjadi deskripsi singkat untuk cara bermain tim di atas lapangan rumput. Tidak ada lagi percobaan taktis atau gagasan yang terlalu ambisi. Bukti nyatanya, formasi tiga pemain tengah serta dua bek sayap yang lincah dalam menggempur naik turun telah dipertunjukkan kembali, termasuk dengan konfigurasi tiga striker di depan seperti era Shin Tae-yong.
Jika terdapat perubahan, hal tersebut mungkin disebabkan oleh hadirnya Joey Pelupessy sebagai partner Thom Haye di area tengah, Kevin Diks yang pulih untuk bermain sebagai bek sayap, serta Ole Romeny di barisan penyerang.
Pelupessy, yang sedang melakukan debutnya untuk Tim Nasional Indonesia, berhasil menyelesaikan laga secara utuh. Dalam perannya sebagai penggawa tengah, sang atlet keturunan Maluku tersebut sukses mengendalikan serangan dari Bahrain dengan sangat memukau. Hal itu membuat barisan bertahan tampak semakin kokoh.
Berbekal jam terbang yang dimilikinya dari bermain di liga-liga Eropa, sang pemain dari klub Lommel (Belgia) berhasil membantu Thom Haye untuk lebih banyak mengontrol ritme pertandingan tim tersebut.
Akhirnya "Si Profesor" berhasil menciptakan assist penting tersebut, memulai serangan yang menuju ke gol kemenangan bagi tim mereka.
Pada lini belakang sayap kanan, Kevin Diks menampilkan permainannya dengan baik, terus-menerus bergerak untuk mendukung serangan maupun pertahanan dari sisi kanan timnas Indonesia. Kinerja tersebut setara dengan standar tinggi milik Calvin Verdonz, pemain utama sebagai bek sayap kiri dalam skuad.
Bonusnya, selain memiliki tubuh yang tinggi dan besar, pemain dari FC Copenhagen (Denmark) ini juga handal saat mengirimkan umpan silang. Apakah itu umpan silang pendek atau lob panjang, keduanya berkualitas baik, sehingga bisa menjadi alasan pelatih lebih sering menunjuknya sebagai starting lineup.
Dengan semua atribut tersebut, seharusnya hal ini menjadikan tantangan bagi para pemain lain di posisinya untuk benar-benar memperbaiki kinerja mereka. Kemampuan pemain yang berasal dari keturunan Maluku ini tidak bisa diremehkan, mengingat pada musim 2025-2026 mendatang dia akan bergabung dengan Borussia Moenchengladbach, sebuah tim Bundesliga Jerman, salah satu kompetisi sepak bola teratas di Eropa.
Di garis terdepan, Ole Romeny membawa kemampuan finishing yang diperlukan oleh skuad tersebut. Golnya melawan Bahrain datang dari sentuhan tajam ala seorang penyerang. Suatu hal yang telah absen dalam Tim Nasional Garuda.
Keberadaan ketiganya, bersama dengan susunan tim yang telah membentuk gaya bermain praktis, sangat sesuai. Tim Nasional Indonesia saat ini secara umum merupakan tim yang lebih suka menjaga kontrol atas jalannya pertandingan daripada sekadar menguasai bola.
Di bawah mistar gawang, Maarten Paes telah menunjukkan kemampuan untuk tampil handal, mengamankan clean sheet sebanyak 3 kali pada babak kualifikasi. Kondisi tersebut umumnya timbul karena adanya kerjasama yang baik antara penjaga gawang dan lini pertahanan, terlebih ketika trio bek tengah Jay Idzes, Justin Hubner, serta Rizky Ridho turut ambil bagian dalam permainan.
Sebagaimana telah diketahui, ketiga pemain tersebut membawa kerjasama yang cukup kokoh. Jay Idzes menyuguhkan kesabaran ala seorang kapten tim, Rizky Ridho tampil dengan permainan yang tertib dan aman, sedangkan Justin Hubner siap bertarung secara agresif apabila dibutuhkan.
Dengan benteng bertahan yang kuat, formasi tiga penyerang, seorang playmaker, dan satu gelandang bertahan merupakan susunan optimal untuk mengambil kesempatan melalui lubang dalam barisan belakang tim lawan. Apabila kemampuan finishing dapat ditingkatkan, tidak perlu menggunakan konsep rumit seperti Total Football guna meraih hasil telak tanpa harus melakukan banyak perubahan strategi besar-besaran.
Pragmatisme menjadi semakin sesuai untuk tim pelatih sekarang, mengingat Alex Pastoor, sang pemegang kunci strategi dalam tim, sudah biasa menggunakan cara bermain pragmatis. Patrick Kluivert sebagai juru taktik utama tampak cocok dengan pendekatan tersebut, pasalnya dia merupakan mantan bintang di bawah asuhan Louis van Gaal, sosok pelatih ikonik Belanda yang dikenal dengan sistem dan pendekatan praktisnya pada permainan sepak bola.
Cirri khusus ini turut menentukan kepribadian Kluivert dalam karier kepelatihannya. Tepatnya, selain pernah jadi salah satu anak didik dari Van Gaal saat bersama Ajax, Barcelona, dan tim nasional Belanda; ia pun sempat berperan sebagai staf serta asisten pelatih di bawah arahan mantan pelatih tersebut di AZ Alkmaar dan juga tim nasional Belanda.
Secara otomatis, menyamakan Patrick Kluivert dengan "Total Football" bisa dibilang terburu-buru. Terlebih lagi, bila kita mempertimbangkan pergeseran dalam strategi sepak bola di Belanda menuju pendekatan yang lebih praktis, hal ini menjadi jelas setelah timnas Orange mencapai final Piala Dunia tahun 2010.
Pragmatisme yang ada di Belanda terus bertahan hingga masa kini, bahkan dengan adanya Ronald Koeman sebagai sang juru taktik. Meskipun demikian, Koeman sebelumnya sempat diperkenalkan pada konsep sepak bola total oleh Rinus Michels si "Ayah dari Sepak Bola Total" serta Johan Cruyff si "Guru dari Sepak Bola Total".
Berdasarkan sifat kental tersebut serta susunan tim dan ciri khas dari lawannya, Timnas Indonesia semestinya memahami jenis strategi mana yang paling tepat untuk diterapkan. Ini bukanlah soal tak boleh menampilkan gaya sepak bola indah, tetapi ini adalah hal yang harus dipertimbangkan oleh skuad kompetitif pada tingkat tertinggi agar dapat meraih performa optimal sebagai satu kesatuan.
Bisa?